Sob, Ini Beberapa Pelajaran Sebelum Membangun Rumah Tangga (Part 2)

Tulisan ini  adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang pelajaran sebelum membangun rumah tangga. Sebelumnya saya tuliskan bahwa ridha dan keikhlasan orang tua (khususnya Ibu) mutlak diperlukan saat membuat keputusan. Apalagi keputusan besar seperti menikah dan memilih pasangan. Jika kita tidak manut sama orang tua dalam memilih pasangan, ya siap2 dengan resiko yang akan kita dapat di kemudian hari. Tapi jika kita memang punya pilihan, beritahu siapa dia ke orang tua secara detil. Syukur2 orang tua jadi setuju. Namun jika tetap tidak setuju, saran saya lebih baik nurut ke orang tua.

Okeh, yuk mari ke cerita selanjutnya.

Cerita Kedua, Tentang Komitmen

Komitmen terhadap pasangan

http://positivepsychologymelbourne.com.au/

Di part 1, saya sebutkan bahwa cemua cerita di tulisan ini adalah kisah nyata hasil curhatan orang-orang lewat FB ke salah seorang konsultan keluarga Islami. Ada yang  curhat, beliau seorang bapak punya seorang istri dan 2/3 orang anak. Anaknya yang paling besar sudah berumur 9 tahun. Bapak ini kerja di luar kota. Singkat cerita, istrinya selingkuh dengan orang lain. Bahkan sedang mengandung anak dari selingkuhannya. Beliau curhat karena ngga tau harus gimana. Ustadz konsultannya bilang yang sabar aja, maafin istrinya, ajak bertaubat dan rawat anaknya kayak anak sendiri. Saat mau melahirkan, si bapak masih menawarkan untuk menemani namun istrinya  ngga mau.

Beberapa kali  antara Ustadz konsultannya dan si bapak saling balas chat. Namun terakhir si bapak bilang sekarang sudah cerai.

Nah teman2, cerita kayak gini banyak terjadi di sekitaran kita. Komitmen memang gampang-gampang susah. Ngomongnya sih setia seumur hidup, eh ditinggal suami malah cari yang lain.  Jadi temen2, jika kita sudah memutuskan sama seseorang, ya kita mesti punya perjanjian dengan diri kita sendiri untuk setia. Ngga perlu gombal2 ke pasangan. Komitmen juga tidak berhubungan dengan seberapa tinggi ilmu agama kita, komitmen ya soal komitmen. Cerita ketiga akan memperjelas bahwa itu benar.

Cerita Ketiga, Cerita-cerita Perselingkuhan

Suami Istri Selingkuh

www.huffingtonpost.com

Bagian ini terdiri dari 3 cerita:

1. Cerita yang saya dapat saat saya gawe kontrak di OJK

Ada seorang wanita yang alim dan sudah bersuami. Ilmunya tinggi. Ibadah sunnah seperti shalat malam, puasa sunnah dll cakep. Ikut pengajian kemana2. Namun siapa sangka wanita ini punya selingkuhan. Dia bahkan berzina dengan selingkuhannya. Namun yang anehnya,  ibadah2 sunnah yang tadi saya sebutin tetap jalan, seakan2 selingkuh dan berzina itu jadi hal yang biasa banget. Yang lebih parah lagi adalah, saat ikut pengajian pun wanita ini diantar oleh selingkuhannya! Parah!

2. Becanda berlebihan Hingga..

Ada seorang wanita yang curhat bahwa suaminya suka sms atau bbm gitu dengan wanita lain. Pada si suami ini orang yang pemahaman agamanya bagus. Jago lah soal agama, paham. Awalnya ketika ditegur ya si suami bilang biasa aja, chat2 biasa aja, ngga ada yang berlebihan. Namun setelah sekian lama, ketika istrinya ngecek hape suaminya lagi, obrolan mereka udah jauh banget. Bahkan saling manggil Abi-Umi dengan wanita yang di chat itu. Ini sudah bisa dibilang selingkuh. Dan hal ini berawal dari membuka diri terlalu luas dengan yang bukan muhrim. Awalnya ngobrol biasa aja, ujung2nya jadi parah. Makanya ketika nanti sudah punya pasangan, hindari obrolan2 ngga penting dengan yang bukan muhrib, baik online ataupun yang face to face. Hargai dan setialah sama pasangan.

3. Suami ga pulang2, tau2..

Ada juga curhatan seorang istri kalo suaminya ngga pulang2. Tau2 ketika dicari lagi sama cewek laen. Pada si suami ini juga  orang yang paham agama.

Nah Mas Bro dan Mba Sist, cukup sekian tulisan dari  saya kali ini. Mudah2an tulisan ini bermanfaat untuk kita yang belum menikah maupun yang sudah. Aamiin

Have a nice day.

Razi.

BTW, ini ada beberapa ide desain wallpaper untuk dinding rumah kamu. Silakan dilihat-lihat, barangkali ada yang cocok. 🙂

Reply