Para Guru Ini Rela Mengajar Tanpa Memikirkan Besar Gaji yang Mereka Terima

Teman-teman pasti tau salah satu program tv yang ada di salah satu tv swasta, Kick Andy, iya kan?.

Baik, untuk yang belum tahu, saya akan menjelaskan sedikit tentang program tv ini. Kick Andy adalah program tv di salah satu tv swasta di Indonesia yang menghadirkan tamu-tamu hebat dari berbagai latar belakang dan berbagai cerita untuk diwawancarai dan berbagi pengalaman. Kick Andy dimoderatori oleh seorang host/presenter yang juga matan wartawan senior di berbagai surat kabar, Andy F. Noya, atau biasa dipanggil Bang Andy. Jika teman-teman pernah nonton talkshow Oprah oleh Oprah Winfrey, maka seperti itulah  kira-kira acara Kick Andy ini.

Namun saya tidak akan membahas Kick Andy terlalu umum. Saya akan membahas salah satu episodenya saja yang menurut saya cukup inspriratif sekaligus memprihatinkan. Episode tersebut berjudul “Hadir Pol, Gaji Nol” yang tayang pada tanggal 29 November 2014 lalu. Dalam episode itu, Bang Andy mengundang tiga orang guru inspriratif yang rela mengajar dengan susah payah bertahun-tahun namun gaji yang diterima tidak seberapa. Ketiga guru hebat tersebut adalah Ibu Asnat Bell, Bapak Firmansyah dan Ibu Ai Dewi. Ketiga orang terbesebut berasal  dari daerah yang berbeda-beda.

Ibu Guru Asnat Bell

Ibu Asnat Bell adalah seorang guru SD berusia 44 tahun dan telah mengabdi sebagai guru honorer selama hampir 12 tahun di kawasan terpencil Nusa Tenggara Timur. Ibu Asnat bell mulai mengajar sejak 2003. Dalam sehari, beliau mengajar tujuh jam untuk sembilan mata pelajaran. Teman-teman mungkin tidak akan percaya dengan besar gaji yang beliau terima setiap bulannya, lima puluh ribu rupiah!, iya, hanya lima puluh ribu. Satu tahun pertama beliau mengajar bahkan cuma dibayar Rp. 7.000. Dua tahun kemudian beliau dibayar Rp. 25.000 per bulan. Itu bahkan tidak cukup untuk uang makan kita umumnya dalam sehari. Namun sejak ada program 1000 guru, gaji beliau sedikit naik, namun masih sangat kecil, hanya Rp. 100.000!. Namun begitu, beliau masih tetap semangat mengajar. Tekad beliau adalah agar anak-anak di desa beliau bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak lainnya.

Ibu Asnat Bell dan keluarga

Ibu Asnat Bell Berfoto Bersama Suami dan Anak-Anak

Bapak Guru Firmansyah

Di Nusa Tenggara Barat , tepatnya di kaki gunung Tambora, ada Bapak guru Firmansyah yang sudah 9 tahun mengabdi sebagai guru sukarela. Istilah ini mungkin lahir dari beliau sendiri. “Guru sukarela adalah guru yang mengajar tanpa mengharap balasan, jika diberikan diterima, jika tidak pun tidak apa-apa”, begitu kira-kita penuturan beliau.

Bapak guru Firmansyah adalah lulusan D2 PGSD atau Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Menjadi guru merupakan cita-cita beliau dari awal, terinspirasi dari guru Bahasa Indonesia beliau saat SMP. Salah  satu hal yang memotivasi beliau tetap mengajar sebagai guru sukarela adalah karena di sekolah tempat beliau mengajar kekurangan guru, sementara bagi beliau, pendidikan sangat penting untuk membangun bangsa. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, beliau bekerja serabutan dengan membuka bengkel, menjadi supir hingga pengangkut kayu.

Tidak jauh berbeda dengan Ibu Asnat, Bapak Firmansyah dibayar sebesar Rp. 50.000 per bulan dan Rp. 150.000 per tiga bulan. Kemudian naik menjadi Rp. 500.000 per tiga bulan yang artinya hanya sekitar Rp. 150.000 per bulan. Ini tentu angka yang sangat sedikit.

Bapak Firmansyah di Kick Andy

Bapak Firmansyah saat Tampil di Kick Andy

Ibu Guru Ai Dewi

Ada lagi sosok yang tidak kalah inspiratifnya, Ibu Ai Dewi. Beliau  adalah sosok yang tidak kenal lelah dalam memberikan pendidikan bagi masyarakat badui luar yang tinggal di kampung Cicakal, Banten. Beliau Sempat ditolak berkali-kali dan bahkan diusir karena dianggap telah menodai adat istiadat kampung tersebut. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berkeliling mengajar di 60 kampung dan menempuh jarak puluhan kilometer tanpa dibayar.

Perlahan perjuangannya mulai diakui, ia pun mendapat honor mengajar sebagai guru honorer di madrasah ibtidaiyah sebesar lima ratus lima puluh ribu rupiah.

Hingga saat ini sudah 22 tahun ibu tiga anak ini mengabdi sebagai guru honorer. Selain mengajar di sekolah formal, ia juga memberikan pendidikan non formal bagi warga badui. Beliau bertekad memberantas buta huruf pada orang tua dan anak-anak putus sekolah yang belum pernah tersentuh pendidikan.

Ibu Ai Dewi Guru Keliling

Ibu Ai Dewi Guru di Desa Baduy Luar

Nah, itulah tiga sosok yang diangkat ceritanya oleh Bang Andy dalam episode “hadir pol gaji nol”. Saya yakin banyak sekali guru-guru seperti beliau di berbagai tempat yang tidak kita dengar ceritanya. Semoga amal para Ibu dan Bapak guru di Indonesia yang telah mengabdi dengan ikhlas mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Semoga pemerintah juga lebih memperhatikan sektor pendidikan, dalam hal ini adalah kesejahteraan para guru. Aamiin.

Note : Teman-teman yang ingin menghubungi saya silakan berkunjung dan bertemu disini. 🙂