We’re The Ibrahims

Mungkin di antara teman-teman ada yang bertanya-tanya jauh-jauh ke Jogja untuk belajar internet marketing tapi kok kerjaannya disuruh nulis doang sama Mas vatih. Nah, akan saya jelaskan. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa salah satu target Mas Vatih melalui sintesa adalah paling tidak kami memiliki satu website konten dan satu website penjualan produk. Saat ini kami belum masuk ke penjualan produk, kami masih fokus di konten. Namun website kontenpun, Mas Vatih ingin kami melihat dari sudut pandang bisnis juga, bagaimana menghasilkan uang dari konten-konten yang kita buat.

Website konten adalah website yang berisi tulisan atau artikel berdasarkan tema tertentu. Contoh website konten seperti fimadani.com, dream.co.id, hipwee.com dll. Menulis tentu modal awal yang harus dimiliki oleh pemilik website konten. Makanya di awal-awal ini, beliau ingin membiasakan kami dengan menulis. Namun di kemudian hari, ketika website-website kami sudah bagus di mata google, kami akan mencari penulis-penulis untuk menulis konten-konten yang diperlukan.

Hari ini kami diminta untuk menceritakan tentang orang lain, bukan diri kami sendiri. Saya memilih untuk menceritakan tentang keluarga saya. Tulisan ini saya beri judul “We’re The Ibrahims”, belong to my father’s name. hehe

Ayah

Seperti di judul, nama ayah saya adalah  Ibrahim. Ayah saya tujuh bersaudara dan beliau anak kedua. Ayah saya seorang pandai besi, dalam bahasa inggris pandai besi itu keren lho, black smith. hehe. Di usia beliau yang hampir 60 tahun, beliau masih sangat perkasa melakukan pekerjaannya. Jika boleh saya megatakan bahwa salah satu pekerjaan yang paling halal adalah seorang pandai besi, menghasilkan uang benar-benar dengan keringat.

Ayah sering menasehati, macam-macam, namun ada dua pesan yang paling berkesan keluar dari mulut ayah.  Pertama, ayah sering mengatakan “satu-satunya orang yang harus kalian hormati dan kalian perhatikan adalah Bunda, ayah tidak usah”. Ayah paham benar  soal menghormati Ibu di mata Allah. Kemudian yang kedua adalah “selalu berpikir positif, selalu berpikir bahwa kalian bisa, jika orang lain bisa kenapa kalian tidak?”. Ayah sudah berpesan seperti ini bahkan sebelum buku “The Secret” keluar.

Bunda

Bunda sangat perhatian sama anak-anaknya, sama kami berlima. Abang saya sudah 26 tahun, saya 24 tahun, tapi masih saja dikhawatirin soal makan Namanya juga Ibu, anak tetap anak mau berapapun usianya. Bunda seorang PNS guru SMP mata pelajaran ekonomi. Seingat saya beliau hampir tidak pernah bolos mengajar kecuali karena benar-benar berhalangan. Jika berhalanganpun beliau akan membayar orang lain untuk menggantikan.

Dalam satu minggu, sepertinya minimal dua kali beliau nelpon. Setiap nelpon selalu ditutup dengan pesan “jangan lupa shalat, usahakan di awal waktu, usahakan berjamaah, usahakan juga shalat sunnah seperti dhuha”.

Bunda juga sangat hemat, bertolak belakang dengan Ayah, yang borosnya nggak ketulungan. Bundalah yang mengajarkan saya soal investasi di emas dan tanah. Sebenarnya banyak yang bisa saya ceritakan tentang Ibu saya, tapi bisa-bisa tulisan ini nanti akan full dengan tentang Bunda saja.

Foto di Salah Satu  Pantai di Banda Aceh

(Kanan-kiri) Ayah, Dek Ya, Bunda, Saya dan Dek Bit

Anak-anak Ayah dan Bunda

Kami lima bersaudara. Saya anak yang kedua. Anak Pertama (abang saya) bernama Almawardi, kami biasa panggil “abang”. Anak kedua (saya, Arrazi) biasa dipanggil bang Dek. Anak ketiga bernama Alhadi, biasa kami panggil Dek Bit. Anak keempat adalah Alkindi yang biasa kami panggil Dek Nyak. Sementara anak kelima dan cewek satu-satunya bernama Alya, kami biasa memanggilnya Dek Ya. Iya, nama kami semua berawalan Al, Ayah terinspirasi oleh ulama-ulama atau tokoh Islam tempo dulu.

Abang

Nama abang saya Almawardi, Almawardi Ibrahim, abang adalah anak pertama. Jika teman-teman suka sejarah Islam, maka teman-teman akan tau bahwa nama Almawardi diambil dari nama seorang ulama yang ahli dalam bidang pemerintahan. Karangan beliau yang paling terkenal saat itu hingga sekarang tentang pemerintahan adalah Al Ahkam Al Sulthaniyyah. Abang lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan sekarang bekerja di Makassar. Abang sudah menikah dan punya satu anak, laki-laki, namanya Alkhwarizmi.

Saya

Saya anak kedua dari lima bersaudara. Sepertinya tidak perlu menjelaskan tentang saya. Silakan baca saja blog saya. hehe

Dek Bit

Dek Bit adalah panggilan untuk salah satu adik saya, anak ketiga. Nama aslinya adalah Alhadi, Alhadi Ibrahim. Dek Bit sekarang sedang dalam proses pengerjaan skripsi di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Mohon doanya agar urusannya dimudahkan ya. Dek Bit juga seorang anak band dengan aliran death metal, nama band nya RAMNIT. Teman-teman bisa melihat band ramnit di youtube jika memang suka jenis aliran musik ini. Jika ingin ngobrol-ngobrol dengan Dek Bit, teman-teman bisa menghubungi doi melalui facebooknya.

Dek Nyak

Nama doi Alkindi Ibrahim. Teman-teman bisa menghubungi doi lewat facebooknya. Alkindi anaknya secara umumnya sih pendiam dan ngga suka mengawali obrolan. Hobinya nge-game. Jika sudah nge-game, bisa berjam-jam dan tidur larut malam. Kalau sedang menginap di tempat saya, kerepotan sekali menyuruh dia tidur. Dek Nyak serang sedang kuliah di Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Sejak SMA memang Dek Nyak paling ingin kuliah di UI. Pilihannya waktu itu ada dua, UI atau UGM. Alhamdulillah dapatnya pilihan pertama.

Dek Ya

Nah, ini satu-satunya anak cewek. Namanya Alyanur Ibrahim. Dek ya sekarang sedang sekolah di Fatih Billingual School Putri  Banda Aceh. Karena dia satu-satunya anak cewek, dia paling dimanja. Tapi bukan dimanja sama Bunda dan Ayah, Bunda dan Ayah sih sama saja ke semua anak-anaknya. Dek Ya paling dimanja oleh kami abang-abangnya. Untuk ngobrol-ngobrol dengan Dek Ya, bisa melalui media sosial facebooknya. 🙂

Foto Bareng Saudara-Saudara

(Kanan-Kiri) Abang, Saya, Dek Bit dan Dek Nyak

Itulah sedikit tentang The Ibrahim.

Terimakasih telah membaca.

Salam hangat,

Razi.

 

Reply